Irfan Bachdim, sesaat nama itu menjadi trending topic di twitter semalam. Bagi beberapa orang yang mengikutinya, pasti tau tentang sejarah dari putra Noval Bachdim ini. Layaknya sang ayah yang juga pesepakbola, Irfan juga menggeluti dunia tersebut. Bahkan, berkat lahir di Amsterdam, Irfan akhirnya mencicipi Akademi Ajax Amsterdam yang terbukti melahirkan beberapa pesepakbola ternama dari zaman Johan Cruijff hingga terakhir Wesley Sneijder.
Irfan Bachdim is an Indonesian footballer who is currently playing for the Indonesian football club, Persema Malang. His father, Noval Bachdim, is an Indonesian while his mother is Dutch[citation needed].
He started his career for Ajax, but moved to Hoofdklasse side SV Argon after 3 years. He became the top scorer in the league, despite his position as a midfielder. FC Utrecht scouted him and brought him to FC Utrecht. He is the first choice at FC Utrecht Junior team and sometimes playing for the reserve team. He made his debut for FC Utrecht in Eredivisie on 17 February 2008, playing 90 minutes against VVV-Venlo.[1]
When the Indonesia national under-23 football team had a training camp in the Netherlands, Irfan played a number times for the team, but he got injured a week before going to the 2006 Asian Games.
On July 2009 he had signed for HFC Haarlem in a free transfer deal. On March 2010 he went trial in Persib Bandung and Persija Jakarta but none of them signed him.
Bachdim's desire to play in Indonesia is finally realized. Officially, the 22-years-old player joined the club Persema Malang. The signing of the contract itself is conducted in Persema Mess, Monday (09/08/2010).
Ya, dari sedikit kutipan wikipedia tersebut, dijelaskan bahwa Irfan adalah blasteran Belanda-Indonesia. Karir profesionalnya dimulai dari FC Utrecht. Disana ia menggunakan nama punggung Bachdim dan no 42. Uniknya, ia tidak terdaftar sebagai pemain asing Utrecht karena masih memiliki paspor Belanda.
Namun Irfan sendiri lebih memilih Indonesia sebagai negaranya, hal ini disampaikan langsung kepada sang ayah. Bahkan, sewaktu Indonesia mengadakan TC di Belanda beberapa tahun yang lalu, Irfan sempat ambil bagian, namun tiba-tiba dia dicoret dengan alasan, Irfan tidak terlalu istimewa.
Satu hal yang bikin beberapa Pelatih di Indonesia berang terhadap PSSI waktu itu, kenapa tidak??Irfan memang bukan penyerang yang istimewa, dia tidak bertubuh tegap dan kekar. Bahkan cenderung kecil untuk ukuran striker. Tapi ingat, dia memang bukan predator kotak penalti. Irfan justru (seperti produk Ajax lainnya) memiliki kecerdasan sepak bola, ia lebih bermain dengan otak ketimbang dengan kaki. Tusukan-tusukannya sangat cerdik dan berbahaya. Beberapa tim besar Eropa sempat meliriknya beberapa tahun yang lalu, tapi sekali lagi, Irfan ingin membela Indonesia dan memilih berkarir di Indonesia. Bahkan, ia sampai rela menghabiskan 4 jam per harinya hanya untuk belajar Bahasa Indonesia dengan sang ayah.
Keinginan kuat Irfan terkabul, sempat menolak masuk Tim U23 Belanda, Irfan akhirnya resmi memegang paspor Indonesia medio Agustus lalu. Sang Ayah bilang, satu-satunya kalimat yang terucap dibibir Irfan saat itu adalah "Sekarang, panggil saya Irfan, bukan Bachdim".
September 2010, Irfan ikut dalam pertandingan yang melibatkan pemuda-pemuda blasteran Indonesia. Disitu terlihat bakatnya sangat menonjol, bahkan ia jauh lebih berkembang. Persema Malang langsung mengontraknya. Dan statusnya "Pemain Lokal".
Oktober 2010, Alfred Riedl pelatih timnas Indonesia sedang mempersiapkan tim menuju Piala AFF. Ia dengan berani memasukkan nama bocah Irfan Bachdim. Bahkan Alfred berpendapat, Irfan seharusnya sudah masuk tim sejak beberapa tahun yang lalu. Bersama dengan Christian Gonzales, Irfan menjadi duo muka baru yang menghuni timnas Indonesia. Keduanya juga menjadi pemain "asing" di timnas. Istilah lainnya "naturalisasi".
Tapi ingat, naturalisasi yang dilakukan Indonesia, memang berdasarkan hal yang jelas. Irfan memang berdarah Indonesia, Gonzales sudah tinggal 5 tahun lebih di Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia. Bahkan keduanya ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya saat partai perdana Indonesia vs Malaysia di Piala AFF. Hal yang bahkan tidak kita temui pada pemain naturalisasi Singapura.
Satu hal saat ini, Irfan memang menggunakan nama punggung "Irfan" bukan lagi "Bachdim" karena ia sekarang Indonesian. So, panggil dia Irfan. Si bocah yang akan merubah nasib sepakbola Indonesia.
Dan semoga PSSI (eh salah, Indonesia) menemukan talenta asing berpaspor Indonesia lainnya.
Irfan Bachdim
Personal information
Full name Irfan Haarys Bachdim
Date of birth August 11, 1988 (1988-08-11) (age 22)
Place of birth Amsterdam, Netherlands
Height 1.72 m (5 ft 7 1⁄2 in)
Playing position Forward
Club information
Current club Persema Malang
Youth career
1999–2001 Ajax Amsterdam
2002 HFC Haarlem
2003–2007 FC Utrecht
Senior career1
Years Club App (Gls)*
2008–2009 FC Utrecht 1 (0)
2009 HFC Haarlem 19 (2)
2010– Persema Malang 5 (3)
National team
2010– Indonesia 3 (1)


4 komentar:
eh ane pertamax disini ya gan?
waa.. bakalan bersinar nih si irfan.. keren.. ;)
salam kenal..
mantef mantef.....
inget bgt gue dulu wkt sebelum sea games , pas timnas u23 latian di belanda . Ada yg bilang kalo kualitas irfan setara dengan pemain indo lain atau istilahnya biasa aja . Nah skg keliatan kan tajinya.
Nice post buddy, Visit my blog http://www.blogger-blogs.com
Full of Tips and Trick about SEO and SERP
Post a Comment