Ngebanyol om??Ga, liat aja selama ini, selalu slogan GARUDA DI DADAKU, ya wajarlah Timnas Indonesia jarang berprestasi, Garudanya di dada mulu.
Well, semalam pasti pada nyaksiin kebrutalan Harimau Malaya mencabik-cabik Garuda Muda. Jujur, saya yang nonton sendiri merasakan Malaysia pantas menang, bahkan seharusnya 90 menit saja cukup untuk mereka. Timnas Indonesia main bagus, penguasaan bola bagus, namun sayang mental mereka masih belum cukup. Masih belum pantas merasakan tensi pertandingan besar yang bergengsi. Salah gue??salah temen-temen gue??Bukan, salah PSSI bung!!
Dan salah Band Netral juga. Menyanyikan Lagu Garuda di Dadaku, yang kemudian menjadi hits setiap kali Indonesia mau bertanding, pada awalnya memang lagu ini memacu semangat. Tapi bagaimana mungkin Sang Garuda bakal terbang tinggi kalau dia menclok di dada terus-terusan?? Apalagi kalau itu dada wanita
PSSI, berganti kepemimpinan, berganti masalah. Mulai dari Liga dengan peserta terbanyak, tiba-tiba ada “pembangkang” lagi yang bikin Liga tandingan, apa beda nya dengan zaman Nurdin Halid?? Keputusan mengganti Alfred Riedl secara tiba-tiba juga disesalkan, mungkin untuk Timnas U23, Riedl legowo memberi jalan pada Rahmad Darmawan untuk memegang kendali tim, tapi untuk Timnas Senior, Riedl di kontrak ekslusif 3 tahun, dan kontrak itu baru jalan 1 tahun dengan prestasi yang ga bisa dibilang GAGAL. Hasilnya diangkatlah Wim Rijbergen sebagai pelatih baru. Wim memberi kesan bagus dengan menyingkirkan Turkmenistan untuk lolos ke Fase Grup Kualifikasi Piala Dunia 2014. Tapi ingat, tim yang tampil saat itu adalah 97% pilihan Riedl dan Rahmad Darmawan. Intinya, kerangka tim yang menang itu dibentuk oleh otak pintar Riedl dan RD. Lihat ketika Wim memegang kendali penuh di Penyisihan Grup, Indonesia jadi bulan-bulanan. Stadion Gelora Bung Karno yang selama ini jadi “nyawa” tambahan malah menjadi “kuburan” buat timnas senior. Parahnya lagi, Wim justru menilai pasukannya ga pantas main di level dunia. WTF lah, kalau ga pantas, kenapa situ pilih Wim??Kan yang milih pemain situ
Kasus Irfan Bachdim, Irfan yang terbiasa tinggal di Eropa dengan atmosfer kompetisi Eropa, pasti tau betul yang namanya Profesionalitas. Nah, seusai membela Timnas Senior, Irfan langsung cabut ke kediamannya untuk istirahat. Karena pengalamannya di Eropa memang bilang begitu, akan tetapi, tiba-tiba datang surat dari PSSI yang menjatuhkan skorsing dengan alasan Irfan tidak muncul di Camp U23, Irfan jelas kaget, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan kalau dia dipanggil. Siapa yang salah??Miskomunikasi??Bukan, ini murni salah PSSI, ingat Irfan itu habis membela Timnas Senior, jelas dia ga tau dipanggil atau tidak ke U23, surat pemanggilan dilayangkan ke Persema timnya Irfan??PSSI berarti salah, wong kompetisi lagi libur, jelas Irfan tidak kembali ke klub. Dan kalau benar, berarti Persema punya andil salah disini, tidak memberitahu Irfan secepatnya.
Arthur Irawan
Kembali PSSI, Januari lalu kita pernah mendengar nama Arthur Irawan dalam pemain yang diseleksi untuk Timnas U23. Akan tetapi dengan alasan kemampuan yang buruk, Arthur dicoret. Hasilnya Arthur kembali ke Inggris untuk bermain di klub semenjana disana. Ternyata, Mauricio Pocchetino Pelatih Klub Spanyol Espanyol melihatnya. Pocchetino yang kala itu datang bersama tim scout Espanyol, tertarik pada kemampuan bocah Indonesia ini. Dan Akhir Oktober lalu, Arthur ditawari kontrak bersama Espanyol. Awal November ini Arthur resmi berkostum Espanyol, dan bukan dengan kontrak pemain Junior, melainkan kontrak Profesional selama 4 tahun. Sampai sisa musim ini Arthur akan main di Tim Junior, dan musim depan disiapkan untuk menembus Tim Inti dengan berkompetisi di Tim B. Prospek yang cukup bagus untuk Pemuda Indonesia yang baru berusia 18 tahun. So, kenapa PSSI menilai Arthur tidak berbakat sementara dia berhasil meraih kontrak perofesional pertamanya dengan tim sekelas Espanyol??Ini yang salah dengan PSSI, dulu sewaktu Irfan Bachdim masih di Belanda juga begitu. Irfan dinilai ga pantas masuk timnas yang saat itu pemusatan latihan di Belanda, akhirnya menjilat ludah sendiri, Irfan di panggil ke Indonesia tahun 2010 lalu. Hal yang lebih parah terjadi pada Radja Nainggolan. Bocah Batak-Belgia ini sangat berhasrat membela timnas Indonesia. Tapi tak kunjung dipanggil, Nainggolan malah jadi rebutan timnas Italia dan Belgia. Hasilnya Nainggolan memilih Negara sang Ibu, Belgia. Saat ini Nainggolan jadi incaran klub-klub besar Eropa semacam Inter, AC Milan, bahkan Manchester United.
Radja Nainggolan
Jadi kalau begini, kapan GARUDA itu mau TERBANG TINGGI??Atau Sang GARUDA masih betah nyemplok di DADA??
Regards
Wide024


0 komentar:
Post a Comment