Saturday, January 14, 2012

Derby della madonnina, lebih dari sekedar derby



Sebuah hal yang absurd sebenarnya kalau menanyakan pertandingan satu kota (derby) mana yang terpanas di dunia. Kenapa? Yah, karena banyak derby berdarah di dunia ini. Mulai dari derby London, derby Manchester, derby Argentina, dan yang paling hot adalah Glasgow Derby.



Tapi jika meniliki derby yang menarik dan ketat, maka derby della madonnina adalah jawabannya. Derby yang juga disebut dengan derby Milano antara dua klub asal kota Milan, AC Milan dan Internazionale Milan. Ketatnya derby ini tidak hanya dari hasil pertemuan dimana Milan hanya unggul 1 kemenangan dari tetangga nya (72-61-71), tapi juga fakta bahwa kota Milan adalah kota tersukses di Italia, kota dengan gelar scudetto terbanyak (36 scudetti yang dibagi rata 18 oleh masing-masing klub), dan juga kota peraih gelar Liga Champions terbanyak (10, 7 untuk Milan, 3 untuk Inter).

Panasnya derby ini bahkan sudah dimulai jauh sebelum Inter berdiri pada tahun 1908, tepatnya tahun 1906, ketika para petinggi Associazone Calcio Milano (AC Milan) tertarik mendatangkan pemain asing di klubnya, namu keinginan itu ditentang oleh beberapa petinggi lainnya. Mereka merasa bahwa Milan, seharusnya dihuni oleh pemain-pemain Italia saja. Orang-orang yang ingin membeli pemain asing ini pun berontak, dan memutuskan untuk medirikan klub baru, klub yang kemudian diberi nama Federazione Calcio Internazionale de Milano Sp.A berdiri pada 1908. Sesuai namanya, Internazionale (kemudian dikenal dengan sebutan Inter Milan) mempekerjakan pemain-pemain internasional. Sebuah pukulan telak bagi AC Milan, karena kemudian justru Inter merajai pentas Serie A. Bahkan Inter menjadi tim kedua yang memperoleh bintang emas (tanda peraih 10 scudetti) setelah Juventus. Duel Inter vs Juve saat itu juga disebut sebagai derby d’Italia. Flashback ketahun 1910, akhirnya melihat tetangga nya sukses denga pemain-pemain internasional, AC Milan mulai ikutan membuka diri untuk pemain asing. Hal ini kemudian menjadi ejekan para Interisti yang memasang spanduk besar “Kami Raja kota Milan, kalian hanya Pangeran, dan pemain asing lebih memilih sang raja”. Sejak itulah rivalitas luar dalam terjadi antara dua tetangga ini.

Namun tidak seperti rivalitas anarkis dua tim Roma dan dua tim Turin, rivalitas abadi tim kota Milan ini justru hanya terjadi di lapangan dan beberapa saat sebelum derby hingga beberapa saat setelah derby, serta tak lupa di akhir kompetisi. Tak pernah terdengar bentrokan maut di jantung kota Milan seperti yang pernah terjadi di Roma, tak pernah terjadi perkelahian massal di stasiun kereta seperti yang terjadi di Turin. Hanya saja, tifosi-tifosi bodoh kedua klub di belahan dunia lain (termasuk Indonesia) yang saling caci menjurus anarkis, padahal, Ultras Curva Sud dan Curva Nord sendiri selalu berdampingan, termasuk saat meryakan Natal 2011 lalu. Inter dan Milan berpesta bersama, Buon Natale!!.

Kembali ke rivalitas di lapangan, saling ejek sering terjadi, saling lempar pun pernah, kasus pelemparan mercon ke Dida pada pertemuan kedua klub di Liga Champions tahun 2003 menjadi kericuhan terakhir. Sang pelempar pun sudah ditangkap bersama-sama oleh Ultras Curva Sud dan Curva Nord. Tapi, sindir menyindir tetap berlangsung.

Milan, bisa jadi merasa sebagai anak tiri di kotanya sendiri. 1989, saat Internazionale meraih scudetto ke 13 nya, Nama Stadion San Siro pun dirubah menjadi Giuseppe Meazza (untuk kepentingan Piala Dunia 1990 di Italia). Meazza sendiri adalah legenda kedua klub, tapi tetap saja Milanisti menganggap Meazza adalah seorang Interisti karena memang terlahir di keluarga pecinta Inter dan lebih lama membela Inter. Sampai saat ini, stadion itu menjadi memiliki dua nama. Nama resminya adalah Stadio Giuseppe Meazza, tapi para Milanisti lebih suka menyebutnya Stadio San Siro.

Pukulan telak lainnya buat Milan adalah, ketika Massimo Moratti mengambil alih kepemimpinan sebagai Presiden Inter pada tahun 1995, Moratti yang juga penguasa saham terbesar pabrik ban Pirelli, membawa Pirelli sebagai sponsor Inter, Milanisti meradang, karena Pirelli sendiri didirikan oleh mantan presiden mereka. Derby pertama saat Inter mulai mengenakan sponsor Pirelli diwarnai dengan spanduk raksasa “Akhirnya kalian menggunakan produk kami” yang dibentangkan disekekiling stadion.

Hal lainnya, fakta bahwa Inter sebagi satu-satunya tim Italia yang belum pernah degradasi, dan tentu saja kasus Calciopoli. Milan dinyatakan terlibat dan bersalah, sementara Inter, justru lolos dari jeratan hukum. Milanisti semakin meradang, ketika Inter justru mengamuk pasca Calciopoli dengan 5 scudetti beruntun yang artinya melewati raihan scudetto Milan (saat itu 17, dan Inter 18). Ditambah lagi, Inter menjadi Klub Italia pertama yang meraih treble winners pada tahun 2010.

Akhir musim 2011, Milan akhirnya merebut gelar ke 18 mereka, dan memastikan scudetto tetap bertahan di kota Milan dalam 6 tahun terakhir (sesuai harapan sang walikota yang ingin scudetto selalu bersemayam di kota Milan). Gennaro Gattuso memakai kaos bertuliskan “Kami dapat 18, dan semuanya kami raih di lapangan”. Kata-kata itu jelas menyindir Inter yang meraih 1 scudetto nya di meja hijau. Tapi keeseokan harinya, Thiago Motta memberikan ucapan selamat pada Milan dengan sebutan “Selamat atas scudetto ke 18 yang diraih tetangga kami, mereka dapat itu semua di lapangan, tapi ingat juga, kami meraih treble winners juga di lapangan”.

Perang kata-kata itu memang sudah menjadi hal yang lumrah antara kedua tim. Bahkan saat menjuarai Liga Champions tahun 2010, Marco Materazzi malah memakai topeng bergambar wajah Silvio Berlusconi (Presiden Milan) sebagai bahan ejekan terhadap yang bersangkutan karena sedang tersangkut kasus suap dan korupsi. Reaksi Berlusconi?? Dia tidak marah, malah bilang “Saya senang Matrix masih mengingat saya dalam pestanya”.

Ya, psywar, perang kata-kata, pertaruhan gengsi, harga diri akan kembali tersaji Minggu 15 januari 2012 ini (Senin dinihari waktu Indonesia), dalam derby della madonnina ke 276. Pertaruhan tahta ke 19, pertaruhan gengsi dua tim yang sama-sama terpuruk di awal musim dan sama-sama sedang bangkit.

Dan perang kata-kata dalam bentuk psywar juga sudah terjadi sejak awal tahun,apalgi pertemuan kali ini dibumbui perebutan Carlos Tevez oleh kedua tim.

Simak perang kata-kata mereka:
Claudio Ranieri (pelatih Inter), “Ini lebih dari sekedar derby, saya pernah menghadapi derby lainnya sebelumnya, dan ini beda. Ini akan menjadi titik tolak kebangkitan Inter pasca treble”

Thiago Silva (bek Milan), “Ini cuma dua partai dari total 38, tapi akan memalukan saat kami meraih scudetto namun kalah dalam derby”

Massimo Allegri (Pelatih Milan), “Saya tak terlalu memikirkan pertandingan ini, sama saja dengan pertandingan lainnya, bedanya yang kami hadapi adalah tim yang sedang dalam fase bagus”

Diego Milito (striker Inter), “Mereka boleh saja menang dalam perebutan sahabat saya (Carlitos), tapi di lapangan, jangan harap”

Christian Vieri (eks Milan dan Inter), “Saya melihat Juve bangkit, tapi Inter dan Milan lebih berbahaya, scudetto??Pemenang derby Milano lah yang akan meraihnya”

Zlatan Ibrahimovic (Striker Milan, eks inter), “Musim lalu kami menaklukan mereka 2 kali, dan 1 kali lagi di super coppa, sekarang mereka beda, tapi Milan tetaplah Milan”

Javier Zanetti (kapten Inter), “Hanya Inter yang bisa menang lebih dari tiga kali berurutan dalam derby, jadi kali ini, kami yang akan menang”

So, siapa menurut anda yang layak menang??Apakah benar, pemenang derby della madonnina ini yang bakal menjadi scudetto tahun ini??
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 komentar:

Post a Comment