Italia, salah satu negara dengan akar calcio yang sangat kuat, memiliki klub-klub yang tangguh. Tak jarang sensitifitas antar tifosi klub di Italia sangat mengakar sejak kecil.
Bocah Italia yang baru lahir, langsung dihadapkan pada pilihan, menjadi tifosi klub mana. Dan biasanya, itu akan mengakar hingga dewasa.
Kita pernah tahu bahwa dua bersaudara Baresi (Franco Baresi dan Giuseppe Baresi) adalah tifosi sejati Inter sejak kecil, bahkan mereka berdua sama-sama mendaftar ke Appiano Gentile untuk masuk akademi Inter, namun sayang, hanya Baresi tua (Giuseppe Baresi) yang diterima. Sang adik, Franco Baresi ditolak, dan kemudia memutuskan menyeberang ke Milanello kemudian menjadi legenda di sana.
Francesco Totti, sejak kecil sangat anti dengan yang namanya Lazio, Alessandro Nesta malah sebaliknya, anti dengan AS Roma. Banyak kisah pesepakbola lain yang sangat fanatik terhadap tim kesayangannya, terakhir, Antonio Cassano yang sejak kecil juga merupakan Interisti namun juga ditolak sewaktu masuk Appiano Gentile, tapi Cassano masih beruntung karena kemudian masih bisa bergabung dengan tim pujaannya.
Saking eratnya hubungan kedua klub, Lazio melalui Presiden nya saat itu Sergio Cragnotti sampai menelpon Massimo Moratti untuk minta maaf atas kekalahan 4-2 yang diderita Inter dari Lazio pada pekan terakhir musim 2001/2002. Masalahnya bukan sekedar kekalahan, tapi Inter yang saat itu sedang memimpin klasemen, harus merelakan scudetto jatuh ke tangan Juventus dan kemudian hanya bercokol di peringkat ke-3 pada klasemen akhir.
Pada musim 2009/2010, bahkan Lazio terlihat sedikit mengalah saat berhadapan dengan Inter, salah satunya karena mereka tidak mau Roma yang keluar sebagai scudetto.
Namun, rivalitas sangat besar juga sering terjadi. Biasanya antara klub-klub dari Utara Italia yang memiliki pendukung anarkis.
Serie A atau mungkin Italia, mengenal derby satu kota dalam sepak bola nya. Yang sudah biasa dikenal tentunya derby yang disebut derby terpanas Eropa bahkan dunia, derby kota penguasa scudetto terbanyak di Italia, derby della madonnina antara Inter dan Milan, lalu derby dua bebuyutan ibu kota, derby della capitale antara AS Roma dan Lazio, derby utara lainnya yaitu derby della mole antara Juventus dan Torino, derby kota pelabuhan, derby della lanterna antara Sampdoria dan Genoa. Kemudian ada juga derby antara dua tim yang tidak satu kota, tetapi memiliki hubungan kedekatan. Diantaranya adalah derby del Curva Nord antara Inter dan Lazio (bukan hanya berhubungan baik di luar lapangan, kedua tim juga sama-sama menempati Curva Nord/Utara di stadion masing-masing), derby del sole antara Napoli dan Roma (kedua tim juga memilik hubungan erat). Serta derby yang disebut sebagai pertemuan 2 tim terbesar dalam sejarah sepakbola Italia, derby d'Italia.
Persaingan dua klub ini bahkan lebih panas dibanding derby della madonnina. Kalau Interisti dan Milanisti masih sering terlihat bergandengan tangan di luar suasana derby, tidak demikian dengan Interisti dan Juventini. Sensitifitas kedua tim meninggi sejak kasus Calciopoli tahun 2006.
Awal mulanya kedua tim disebut pantas menyandang title derby d'Italia, karena hingga tahun 80-an, kedua klub ini adalah dwi-tunggal penguasa Italia dan menjadi tim Serie A yang tidak pernah terdegradasi. Akan tetapi masa suram Inter pada 90-an hingga awal 2000-an, membuat jumlah scudetto Inter disalip saudara sekota, Milan. Title laga derby d'Italia pun sering disindir penukung Juve, sempat terpajang banner besar di Delle Alpi kalai itu, yang bertuliskan, "derby d'Italia?bahkan scudetto Milan lebih banyak dari kalian".
Well, kebangkitan Inter pada 2006, dan terkuaknya kasus calciopoli yang membenamkan Juve ke Serie B (sebelumnya akhir 90-an Juve juga terlibat kasus doping). Membuat status derby d'Italia kembali, namun kali ini justru Interisti yang mengejek. "derby d'Italia?Kami bahkan tak pernah main di Serie B".
Yah, terlepas dari itu semua, Juve memang sangat membenci Inter, dan sebaliknya. Tensi tinggi ini makin meningkat sejak kasus calciopoli, Juve dituduh sebagai aktor utama, 2 scudetti mereka dicabut, dari 2 itu, 1 dibiarkan lowong, dan 1 lagi diberikan kepada Inter yang dinyatakan bersih.
Ini yang kemudian membuat Juve dan Juventini makin meradang. Tahun 2009 dan 2010 lalu, Juve menuntut pada FIGC untuk mengembalikan scudetti mereka yang dirampas. Tapi FIGC tak bergeming. Hal ini yang kemudian menjadi bahan ejekan oleh pemain Inter, Marco Materazzi, sewaktu Inter menjuarai Liga Champions tahun 2010, Materazzi menggunakan kaos yang bertuliskan "Kalian mau ini juga?tapi maaf, kami tak mencurinya dari kalian, kami meraihnya di lapangan".
Tensi tinggi ini mengakar hingga rekor pertemuan kedua tim pasca calciopoli, Juve lebih unggul daripada Inter, bahkan sejarah juga mencatat, Juve secara total unggul dari Inter. Dan ironisnya lagi, kekalahan terbesar yang pernah dirasakan Inter sepanjang sejarah, diraih saat berhadapan dengan Juve tahun 1961 (Inter kalah 9-1).
Musim lalu, Juve akhirnya meraih scudetto pertama setelah calciopoli, uniknya, Juve menganggap jumlah scudetto mereka adalah 30. Tentu dengan menghitung 2 gelar yang dicabut karena calciopoli. Ini yang kemudian jadi permasalahan di Italia. Bahkan pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri sampai menyindir "Juve bilang scudetto mereka 30? Mereka salah hitung, scudetto mereka 31, mungkin mereka lupa menambahkan scudetto Serie B yang mereka peroleh".
Lebih menarik lagi, ketika Juve meraih scudetto dengan status unbeaten alias tak terkalahkan. Bahkan hingga pekan ke-10 musim ini, ditambah 1 partai terakhir musim 2010/2011, juve secara total tak terkalahkan dalam 49 partai. Dan uniknya, Juve bakal menghadapi Inter di pekan ke-11. Musuh bebuyutan yang juga sedang on-fire. Inter menyapu bersih semua laga tandang mereka musim ini. Tentu tensi tinggi bakal semakin tinggi, karena minggu sebelumnya, kemenangan juve dicap kontroversial, hingga Juve pun melakukan aksi silenzio stampa.
Fakta menariknya adalah, para punggawa Inter, Presiden bahkan eks-pemain Inter malah membela Juve atas tuduhan kontroversial itu.
Massimo Moratti (Presiden Inter), "Jangan selalu menyalahkan wasit untuk setiap partai Juve, wasit terkadang juga suka lalai dalam mengambil keputusan, hanya kebetulan saja itu saat Juve bertanding"
Julio Cesar (eks Kiper Inter), "Setiap wasit yang memimpin partai Juve pasti mengalami tekanan, sedikit saja membuat kesalahan, maka itu akan jadi topik utama dalam beberapa pekan, bahkan hingga akhir musim"
Andrea Stramaccioni (Pelatih Inter), "Inilah sepakbola, ada sesuatu yang sangat dibenci, dan saya tak mengerti kenapa partai Juve-Catania lebih mendapat sorotan, padahal di partai Fiorentina-Lazio juga terjadi kesalahan yang sama"
Sebaliknya, Legenda Juve dan pemain Juve sendiri malah menruh respek pada Inter sebelum derby d'Italia.
Dino Zoff (eks Kiper Juve, eks Pelatih Timnas Italia), "Inter sangat memukau musim ini, pemilihan Stramaccioni sangat tepat, dia tahu bagaimana bekerja denga tim nya"
Andrea Barzagli (bek Juve), "Secara tim, jelas Inter menakutkan, saya khawatir rekor kami terhenti di partai ini, dan Diego Milito adalah monster yang mesti diwaspadai, saya selalu dibikin repot olehnya"
Lalu, apa yang terjadi di partai tadi pagi?
Juventus Stadium langsung bergemuruh ketika di detik ke-19 Arturo Vidal menjebol gawang Samir Handanovic.
Namun di babak kedua, Inter mampu menyamakan kedudukan, bahkan menang 3-1 lewat gol-gol dari Diego Milito (2) dan Rodrigo Palacio. Menariknya, dua pemain ini biasanya sangat susah untuk menjebol gawang Juve.
Juve akhirnya kalah, rekor unbeaten mereka terhenti di angka 49, parahnya di Juventus Stadium yang tak lain kandang mereka sendiri. Interisti yang hadir cuma 28.000 orang, tapi seisi stadion seolah-olah menjadi miliki Inter, karena sepanjang pertandingan, baik saat tertinggal maupun saat unggul, teriakan Interisti tak pernah henti.
Andrea Stramaccioni sampai melompat kegirangan ketika peluit akhir dibunyikan.
Inter melanjutkan streak kemenangan mereka di seluruh kompetisi, dan menjaga rekor 100% tandang nya musim ini.




0 komentar:
Post a Comment