Bukan bermaksud gaya-gayaan atau apa. Tapi yah, pengikut blog lama saya mungkin udah tau saya sering melempar analisis seperti ini sejak dulu.
Polandia - Ukraina 2012, jadi pusat perhatian seluruh Eropa, bahkan dunia sepanjang musim panas bagian utara tahun ini. 31 partai berkelas tingkat Eropa bakal digelar. Dua negara, 8 stadion. Dari awal turnamen, banyak yang mengunggulkan Jerman, Belanda dan Spanyol untuk menjadi juara. Tapi apa yang terjadi?? Belanda tersingkir di penyisihan grup tanpa meraih sebiji poin pun.
Sekarang, 30 dari 31 partai itu sudah digelar. Dan finalis pun sudah lengkap dengan kemenangan Spanyol atas Portugal melalui adu penalti 4-2 serta Italia atas Jerman 2-1, maka Negeri Matador akan bertemu dengan Negara Para Gladiator di partai puncak.
Oke, kita bedah satu-satu para Finalisnya.
Spanyol
Los Matadores, dulu dikenal sebagai tim spesialis kualifikasi. Selalu berjaya di kualifikasi tapi kemudian melempem di turnamen sesungguhnya. Sebelum tahun 2008, prestasi terbaik Spanyol adalah Juara EURO 1964 ketika berlangsung di negara sendiri. Piala Dunia sendiri mereka baru sebatas peringkat 4 pada tahun 1950. Tapi semua berubah seketika. Mulai dari Euro 2004, ketika ditangani Inaki Saez, dia mulai berani menghilangkan poros Real Madrid di timnas Spanyol, satu hal yang tak pernah dilakukan oleh pelatih-pelatih terdahulu Spanyol. Saez mulai mengurangi Madrid-sentris di timnas, dan penghuni timnas jadi lebih berwarna.
Namun sayang, Spanyol yang saat itu berstatus peringkat ke 3 dunia, masih memiliki satu kekurangan. Terlalu bergantung pada performa Sang Pangeran Madrid, Raul Gonzalez Blanco. Dan mental juara yang belum terasah. Spanyol akhirnya terhenti di penyisihan grup setelah hanya menempati peringkat 3 Grup A di bawah tuan rumah Portugal dan Yunani. Inaki Saez mengundurkan diri. Kemudian digantikan oleh Luis Aragones. Revolusi besar pun terjadi di tangan Aragones, pelatih yang merupakan fans fanatik Los Rojiblancos Atletico Madrid ini mencoret Raul dari timnas.Sesuatu yang tidak berani dilakukan pelatih-pelatih terdahulu, termasuk Saez. Keputusan ini mengundang kontroversi, bagaimana pun Raul adalah Spanyol, dan Spanyol adalah Raul. Itulah yang tertanam di benak masayarakat Spanyol. Atas desakan publik, Raul akhirnya "dikembalikan" ke timnas, dan tetap dibawa ke Piala Dunia 2006. Akan tetapi, langkah Spanyol yang saat itu merupakan gabungan tim senior dan junior, terhenti lagi. Takluk dari Perancis di babak 32 besar. Spanyol pulang lebih awal dengan kekecewaan. 2008, Aragones sama sekali tidak mendengarkan teriakan publik. Raul sama sekali ditinggalkan, bahkan tak pernah dipanggil ke timnas lagi pasca Piala Dunia 2006. Aragones tak bergeming dengan hujatan pendukung, menurutnya, pelatih lebih tahu kebutuhan tim. Dan benar, firasat Aragones dengan memperkenalkan David Villa terbukti jitu, Villa yang menggunakan jersey no 7 peninggalan Raul, menjadi pahlawan dan membawa Spanyol menjuarai Euro untuk kedua kalinya setelah mengalahkan Jerman di partai puncak. Vamos Espana. Target berikutnya adalah Juara Dunia. Akan tetapi Aragones menolak perpanjangan kontrak. Spanyol menunjuk Vicente del Bosque, pelatih yang membawa Real Madrid 2 kali juara Liga Champions tahun 2000, dan 2002 untuk menakhodai Spanyol. Tidak banyak yang diubah del Bosque. Pondasi yang dibagun Aragones hanya diperbaiki dibeberapa sisi. Hasilnya?? Spanyol menjuarai Piala Dunia untuk pertama kali. 2010 menjadi tahun yang penuh kebahagiaan masyarakat Spanyol. Penantian panjang mereka selesai.
2012, sesaat sebelum Euro digelar, Spanyol membidik 3 gelar juara beruntun di turnamen besar. Namun sayang, kehilangan David Villa serta terjadi pengkubuan Barca-Madrid di timnas menjadi isu utama. Spanyol "hanya" menempati unggulan ketiga dibawah Jerman dan Belanda sebagai favorit turnamen. Akan tetapi, dengan pasti mereka berhasil melaju ke final. Final ketiga dalam 4 tahun. Apakah Spanyol Juara EURO untuk ketiga kalinya?? Kita tunggu 1 Juli nanti.
Italia
Negara Mafia, Negara Fasis, Negara dengan menara miringnya. Banyak julukan buat Italia. Tapi adalah satu julukan tak terabaikan, Opera del Calcio . Ya, negara panggung sepakbola. Italia punya dasar yang kuat di panggung sepakbola. Juara Dunia 4 kali, 1934, 1938, 1982 dan 2006. Runner-up tahun 1970, dan 1994. Bahkan Brasil mengganggap Italia sebagai penantang utama mereka. Tepatnya karena 1970, Brasil dan Italia yang sama-sama baru 2 kali juara dunia, berhadapan untuk menentukan negara pertama yang 3 kali juara serta membawa pulang Trophy Jules Rimet. Brasil berhasil. 1994, kedua negara kembali bertemu di final, dan lagi-lagi sama-sama 3 kali juara dunia. Memperbutkan title sebagai negara pertama yang 4 kali juara dunia, lagi-lagi Brasil juara, tapi kali ini lewat drama adu penalti yang diwarnai kegagalan penalti seorang Roberto Baggio. Italia, sejak Piala Dunia 1994 itu selalu menjadi favorit di setiap turnamen, tak peduli apapun dan bagaimanapun kondisi mereka. Sayang nya EURO bukan jadi tempat mereka. Italia cuma pernah juara 1 kali pada tahun 1968 ketika kompetisi berlangsung di negeri sendiri. Euro 2000, pergelaran pertama di 2 negara, Italia yang saat itu hanya membawa 21 pemain (Gianluigi Buffon terpaksa ditinggal karena cedera tangan pada ujicoba terakhir dan tidak bisa diganti) mengejutkan publik dengan lolos sampai ke final. Bahkan di semifinal, Italia menyingkirkan tuan rumah Belanda yang sebelumnya menggulung Yugoslavia 6-1. Francesco Toldo yang menggantikan pos Buffon menjadi hero saat itu. 2 kali ia menggagalkan penalti Patrick Kluivert.
Blue Final, final yang biru digelar. Perancis vs Italia. Publik negara Mussolini bersorak ketika menit ke 21 Marco Delvecchio menjebol gawang Fabian Barthez. Kedudukan masih 1-0 hingga 1 menit jelang pertandingan usai. Namun petak itu dimulai. Menit 90, tendangan setengah voli Syvain Wiltord menjebol gawang Toldo. Pertandingan dilanjutkan ke Extra-time. Dan tepat menit 113, David Trezeguet menancapkan kemunculannya di timnas dengan silver golnya. Italia berduka, negara Pisa pun menunduk terhadap sang Eiffel.
2006, sesaat sebelum Piala Dunia digelar, Italia diguncang prahara. Kasus mafia wasit yang kemudian dikenal dengan calciopoli, melibatkan klub-klub besar Italia tempat bernaung pemain yang dipanggil ke timnas. Sesaat sebelum turnamen, Marcello Lippi, pelatih Italia saat itu mengungkapkan, kalau timnas Italia harus merelakan tiket Piala Dunia mereka, mereka bersedia mundur. Tapi FIGC, UEFA dan FIFA berkata lain. Mereka menahan Italia agar tetap ikut. FIGC pun menunda sidang kasus calciopoli hingga turnamen selesai.
Bertanding di bawah rasa cemas akan status kejelasan klub sebagian pemain. Malah membuat Italia tampil kesetanan. Italia melaju ke final setelah menaklukkan tuan rumah Jerman melalui extratime di semifinal. Lawan mereka?? Perancis!! Ya, saat yang tepat untuk membalaskan dendam selama 6 tahun. Final paling dikenang sepanjang sejarah Piala Dunia. Zinedine Zidane melukai partai terakhinya bersama Perancis karena terpancing provokasi Marco Materazzi. pertandingan yang dalam waktu normal berakhir 1-1 dengan gol yang justru dicetak oleh dua pemain itu, dilanjutkan hingga adu penalti. Trezeguet, pahlawan kemenangan Perancis tahun 2000 akhirnya jadi pesakitan, eksekusi penalti nya dengan mulus digagalkan Gianluigi Buffon. Dan eksekusi Fabio Grosso akhirnya memastikan Italia merengkuh dunia untuk ke empat kalinya. Italia menang 5-3. Sekarang Pisa bisa lebih menyombongkan diri pada Eiffel.2008 dan 2010 menjadi masa kelam. Roberto Donadoni dan kembalinya Marcello Lippi tidak banyak membantu. Italia dinilai terlalu tua.
Akhirnya masuklah pelatih berjiwa muda Cesare Prandelli, Italia tak terkalahkan di ajang resmi sejak ditangani Prandelli, tiket Euro 2012 direngkuh dengan mulus. Tapi lagi-lagi, kasus pengaturan skor yang kemudian disebut Scommessopoli mengguncang calcio. Italia pun tidak tenang, karena ada beberapa pemain yang dipulangkan dari camp karena kasus ini. Prandelli bertindak sama seperti Lippi 2006, Italia siap mundur jika diminta, Dan Presiden UEFA Michael Platini mempersilahkan Italia mundur asal ada keputusan resmi dari FIGC. Tapi FIGC lagi-lagi bertindak bijak, kasus ini juga dipending dan baru akan disidangkan kembali pada 2 Juli nanti. Italia menahan imbang Juara bertahan (ya, yang bertahan sepanjang pertandingan) Spanyol di partai pembuka. Italia ditangan Prandelli bermain kesetanan. Ingatan publik mengemuka pada 1982 dan 2006, saat negara mereka menjadi juara setelah calcio diguncang prahara. Jerman, sang favorit juara lainnya akhirnya dibekuk di semifinal. Italia menantang Spanyol di final 1 Juli nanti.
Sedikit Trivia Untuk pengantar Final EURO 2012
- Italia selalu menjadi juara setelah negaranya diguncang skandal sepakbola
- Belum ada negara yang dapat menjuarai Euro 2 kali beruntun
- Belum ada negara yang bia menjuarai 3 turnamen berturut-turut.
- Sejauh ini, pencapaian Spanyol hanya disamai Jerman yang masuk Final Euro 1972, dan 1976, serta Piala Dunia 1974, hasilnya?? Jerman Barat (kala itu) gagal di Final ketiga mereka (Euro 1976).
- Italia selalu masuk Final dengan siklus 6 tahun sejak 1994 (2000, 2006 dan sekarang 2012)
- Lebih jauh, sejak 1982, dalam siklus 6 tahun itu, hanya pada 1988 Italia gagal ke Final (kalah dari Uni Soviet di semifinal)
- Sejarah mencatat, Italia dan Spanyol pernah menjuarai Euro ketika turnamen digelar di negara mereka.
- Sejarah juga mencatat, Italia adalah Juara Euro pada 1968, tepat setelah Spanyol Juara pada 1964 (persis situasi kali ini)
- 30 pertemuan lawan Italia, rekor Spanyol adalah: 8 menang, 12 draw, 10 kalah
- Spanyol punya rekor buruk vs Italia di turnamen resmi seperti Piala Dunia atau Euro : 1menang, 5 draw, 5 kalah
- Satu-satunya kemenangan Spanyol atas Italia di turnamen resmi terjadi di Olimpiade 1920, skor 2-0
- 7 dari 8 kemenangan Spanyol atas Italia hanya terjadi di partai friendly (persahabatan)
- Rekor Spanyol menghadapi Italia di Piala Dunia dan Piala Eropa adalah 0 menang, 4 draw, 3 kalah


0 komentar:
Post a Comment