Viva Espana, Vamos Espana..!!
Teriakan itu menggema sepanjang malam di jalanan Kota Madrid, Spanyol mencetak sejarah sebagai negara pertama yang mempertahankan Trophy Henry Delauney di lemari mereka. Spanyol juga menjadi negara pertama yang menjuarai 3 turnamen besar beruntun dalam jangka waktu 4 tahun.
Cerita Torres dan Juan Mata
Fernando Torres dan Juan Manuel Mata mencatatkan namanya dalam sejarah, sebagai pemain yang tampil di Final UEFA Champions League serta Final European Cup di tahun yang sama. Istimewanya, mereka menjuarai keduanya, dan sama-sama mencetak gol di Final European Cup
Torres is the Man
Berlebihan?? Tidak juga. Torres menjadi pemain pertama yang mencetak gol di 2 final Euro. Dan lebih penting, Torres mengakhiri Euro 2012 dengan gelar Golden Boot, walau hanya mencetak 3 gol (jumlah yang sama dengan Alan Dzagoev, Mario Gomez, Mario Mandzukic, Mario Balotelli serta Cristiano Ronaldo), Torres berhak atas Golden Boot karena mencatatkan minute play paling sedikit, hanya 189 menit.
Spanyol yang Aneh
Bisa dibilang, Spanyol bakal jadi kuburan para striker negeri sendiri. Mungkin dengan juaranya Spanyol dengan formasi yang tak terlalu butuh striker, anak-anak muda Spanyol mulai berpikir untuk mencari posisi lain jika mau main di timnas.
Vicente del Bosque
Lengkap sudah gelar si kakek satu ini. Selain sukses bersama klub, del Bosque akhirnya menyempurnakan gelar di timnas. Dan del Bosque menjadi pelatih kedua setelah Helmut Schon yang meraih gelar Piala Dunia dan Euro sebagai pelatih
Andreas Iniesta
Iniesta juga mencatatkan namanya di buku emas. Pemain pertama yang menjadi Man of The Match Final World Cup dan Euro secara berurutan. Sebelumnya Iniesta meraih gelar Man of the Match Final World Cup 2010
Anti-klimaks Italia
Bisa dibilang seperti itu. Italia yang tancap gas sejak melawan Irlandia, mencapai klimaks saat semifinal melawan Jerman. Dan sayangnya, di final justru mereka anti-klimaks. Kelelahan? Bisa jadi. Merujuk Serie A yang baru menyelesaikan perburuan juara di pekan ke 37, sementara di La Liga, gelar juara sudah dikunci Madrid sejak pekan 35. Selain itu, Juventus dan Napoli masih berduel di final Copa Italia sehari sebelum Final UCL. celakanya, poros Italia saat ini adalah pemain dua klub itu. Bukti Italia sedikit kelelahan adalah dengan gampang terkapar nya 2 pemain (Chiellini dan Motta). Bahkan sejak Motta cedera, Italia harus bermain dengan 10 pemain karena sudah menggunakan slot pergantian pemainnya.
Italia Terlalu Ketakutan
Yup, formasi yang berbeda dengan saat pertemuan di Grup C, Italia jadi kehilangan akal. Mereka frustasi duluan dengan bertahan selama 10 menit awal. Italia baru menyerang setelah dikagetkan gol David Silva. Reaksi ini juga terlihat dengan berubahnya pos Pirlo. Di pertemuan pertama dengan formasi 3-5-2, Pirlo adalah deep lying playmaker, dialah perusak serangan dan pembangun serangan. Di final, Pirlo jadi playmaker murni. Dan tepat ketika Motta keluar, Italia jadi tanpa Defesive Midfielder yang praktis merepotkan. Statistik memang menunjukkan perimbangan ball possesion, tapi Spanyol lebih efektif
Kasus Scommessopoli Lebih Mengancam
Yup, berbeda dengan calciopoli 6 tahun lalu, scommessopoli lebih ke arah pemain ketimbang klub. Domenico Criscito terpaksa ditinggal oleh Cesare Prandelli karena termasuk dalam daftar pengawasan FIGC. Selain itu beberapa nama di timnas kabarnya juga masuk daftar pemeriksaan pada tanggal 3-15 Juli nanti. Itu membuat pemain Italia lebih tidak tenang. Bahkan konon kabarnya, Gianluigi Buffon termasuk sebagai salah satu di dalamnya.
Italia terlalu Juventus
Bisa dibilang begitu. Italia seolah kembali ke tahun 90an. Ketika Italia sangat Juve-sentris. Bahkan untuk Euro kali ini, Prandelli sampai mengganti formasi favoritnya 4-4-2 (wing) dengan 3-5-2 demi mengakomodasi pemain yang kebanyakan dari Juventus. Selain itu, hasil final serasa de javu Juve. Italia yang tak terkalahkan di pertandingan resmi sejak dipegang Prandelli, tiba-tiba kalah di final. Mirip Juve yang unbeaten tapi tau-tau kalah di final Copa Italia.
Italia Selalu Gagal saat Diunggulkan
Yup, beberapa legenda Italia berpendapat demikian. Bursa taruhan berubah seketika melihat penampilan impresif Itali saat melawan Jerman. Mendadak mereka menjadi favorit juara. Dan beberapa legenda Italia dari Christian Vieri, Marco Materazzi, Roberto Baggio berkomentar, mencemaskan peluang Italia. Italia lebih nyaman di posisi underdog ketimbang unggulan.
Apapun, selamat buat Spanyol, kalian pantas juara. Dan Italia tak perlu kecewa, kerangka regenerasi yang dipasang Prandelli sudah cukup bagus. Catenaccio tidak lagi jadi formasi bertahan. Terlepas jadi atau tidaknya Prandelli mundur (karena kangen melatih klub), Italia punya modal kuat menuju Brasil 2014 dan Perancis 2016.
So, sekali lagi, Viva Espana, Vamos Los Matadores


0 komentar:
Post a Comment